Pola Ujian Nasional pada 2015 Berubah
Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan (Kemendikbud) segera mengubah pola ujian nasional (UN)
pada 2015. Hal ini disebabkan pada tahun itu semua jenjang pendidikan
yang ada telah menerapkan Kurikulum 2013. Perubahan pola UN tidak
mungkin dilakukan sekarang, mengingat pelaksana Kurikulum 2013 belum
secara menyeluruh. Hanya sekolah dan kelas yang menjadi piloting yang
melaksanakannya.
Pernyataan mengenai perubahan pola Ujian
Nasional tahun 2015 disampaikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Kemendikbud) di tengah acara focus group discussion (FGD) tentang
Kurikulum 2013 dan UN yang diikuti oleh beberapa akademisi, praktisi
pendidikan, unsur pers, serta pegiat jaringan penulis artikel. UN
sebagai standar evaluasi tetap akan dipertahankan. Pemakaian UN senagai
standar evaluasi berdasarkan amanat UU Sisdiknas. Penggunaan tandar
tersebut bisa menjadi alat ukur pembanding standar pendidikan di negara
lain.
Perubahan pola Ujian Nasional tahun 2015 jelas disesuaikan
dengan Kurikulum 2013, yaitu ketika semua siswa telah menerapkan
Kurikulum 2013. Saat ini yang melaksanakan Kurikulum 2013 hanya siswa
kelas
1 dan 4 SD, kelas 1 (VII) SMP, dan kelas 1 (X) SMA dari sekolah piloting.
Saat ini belum dapat dirinci bentuk perubahan pola Ujian Nasional tahun
2015 tersebut. UN pada saat ini digunakan pemerintah untuk empat
fungsi. Empat fungsi tersebut adalah :
1. pemetaan,
2. syarat kelulusan,
3. syarat melanjutkan studi ke jenjang berikutnya,
4. dan intervensi kebijakan.
Fungsi pemetaan dan intervensi pada Ujian Nasinal (UN) hanya bisa
dilaksanakan jika ada UN. Makanya UN tetap dipertahankan keberadaannya.
Sebagai contoh, ada sebuah SMA di Jakarta yang hanya memiliki lima
siswa dan ternyata semuanya tidak lulus UN. Maka kemudian Kemendikbud
melaksanakan fungsi intervensi kebijakan. Bentuk pelaksaan fungsi
tersebut adalah melakukan merger dengan sekolah lain. Atau misalnya
juga, sebuah SMA di Nusatenggara Barat yang nilai mata pelajaran Bahasa
Inggrisnya jeblok. Usut punya usut ternyata sekolah yang bersangkutan
tidak mempunyai guru Bahasa Inggris. Sehingga pelajaran Bahasa Inggris
diampu guru bidang studi lain. Karena fakta ini maka SMA di NTB tersebut
diberi guru Bahasa Inggris.
Apapun bentuk perubahan pola Ujian
Nasional tahun 2015, tidak boleh merugikan siswa dan harus dapat
dipertanggungjawabkan semuanya. Perubahan pola Ujian Nasional tahun 2015
ini jangan sampai dijadikan komoditas bagi segelintir orang untuk
mengeruk keuntungan semata.
Dampak dari perubahan pola Ujian
Nasional tahun 2015 harus bisa dirasakan manfaat, nilai dan mutu oleh
semua pihak secara nasional.
CORAT-CORET.COM
Rabu, 26 November 2014
hati hati
Hati-Hati atas Penipuan Mengatasnamakan STAN
Setelah baca dari website resminya STAN tentang penipuan yang menggunakan nama STAN maka perlu kami informasikan juga bahwa STAN tidak pernah membuka seleksi masuk tanpa melalui Ujian.Selain itu, dikutip dari web STAN penipuan yang menggunakan nama STAN ini pelaku benar-benar tidak profesional. Tertulis di suratnya Tahun akademik 2012/2013. Lah sekarang aja masih Tahun akademik 2011/2012. Kesalahan pertama.
Kedua, Bagi yang tidak mengerti, Kode surat STAN bukanlah menggunakan STAN tapi menggunakan kode khusus yang telah di tetapkan sesuai peraturan.
Ketiga. Tanggal surat tertanggal 24 Oktober 2011 sedangkan batas maksimal pendaftaran melalui email adalah 28 Oktober 2011. Waktu yang sangat singkat untuk sekedar publikasi yang notabene STAN diminati oleh Puluhan ribu lulusan Sekolah Menengah.
Keempat. Jarak pengumuman (tes administrasi istilah) hanya 5 hari juga setelah batas akhir pendaftaran. Konyol!!!
Selebihnya kalo mau ditulis masih banyak kebodohon orang yang mengaku-ngaku mengatasnamakan STAN dan mengadakan pendaftaran mahasiswa baru tanpa tes ini.
Salinan surat ini diambil dari website STAN :D
Senin, 24 November 2014
pergaulan remaja
Pergaulan Remaja dan Kebudayaan Di Zaman Sekarang
1.1 1.1 Latar Belakang
Dewasa
ini zaman sudah semakin berubah dengan pesat, dari teknologi, gaya hidup, tata kehidupan, tata bahasa dan
masih banyak yang lainnya yang sudah berubah
dari zaman dahulu sampai dengan sekarang. Globalisasi kini juga sudah
merajarela termasuk saja yang terkena pengaruh globalisasi, sekarang
globalisasi sudah sangat sulit terbendung.karena banyak remaja masa kini yang
pergaulannya sangat bebas dan tidak teratur.
Era
globalisasi yang dihadapi oleh adik-adik kita yang saat ini masih labil
emosinya yaitu anak-anak sekolah dari SMP bahkan sampai dengan jenjang kuliah
dikarenakan belum banyak mengetahui bagaimana mereka menghadapi kehidupan saat
ini yang bisa di bilang Zaman edan. Proses interaksi dan saling
pengaruh-mempengaruhi, bahkan pergesekan kepentingan antar-bangsa terjadi
dengan cepat dan mencakup masalah yang semakin kompleks
1.2 1.2
Pengertian dan Pentingnya Pergaluan Untuk Remaja
1. Pengertian
Pergaulan
Sebelum mengungkapkan pengertian pergaulan,
saya mengamati lingkungan sekitar dimana
saya tinggal dan saya banyak melihat pergaulan yang tidak sehat di lingkungan
anak sekolah seperti anak sekolah yang sering berkumpul di pinggir jalan hanya untuk ketawa-ketawa, merokok,
mabuk-mabukan, free sex / sex bebas dan masih banyak yang lainnya. Banyak
anak-anak sekolah yang melakukan penyimpangan dikarenakan sedikitnya pendidikan
dan pemahaman agama pada keluarga mereka.
Mengenai pengertian dan pergaulan pergaulan
merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, dapat
juga oleh individu dengan kelompok. Seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles
bahwa manusia sebagai makhluk sosial (zoon-politicon), yang artinya manusia
sebagai makhluk sosial yang tak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain.
Pergaulan mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian seorang
individu. Pergaulan yang ia lakukan itu akan mencerminkan kepribadiannya, baik
pergaulan yang positif maupun pergaulan yang negatif.
Pergaulan yang positif itu dapat berupa
kerjasama antar individu atau kelompok guna melakukan hal – hal yang positif.
Sedangkan pergaulan yang negatif itu lebih mengarah ke pergaulan bebas, hal
itulah yang harus dihindari, terutama bagi remaja yang masih mencari jati
dirinya. Dalam usia remaja ini biasanya seorang sangat labil, mudah terpengaruh
terhadap bujukan dan bahkan dia ingin mencoba sesuatu yang baru yang mungkin
dia belum tahu apakah itu baik atau tidak.
2. Pentingnya
pergaulan untuk remaja
Jika kau berkumpul dengan penjual minyak
wangi maka kau akan berbau wangi. Jika kau berkumpul dengan penjual ikan maka
kau akan berbau ikan. Begitulah perumpamaan betapa pentingnya memilih
pergaulan. Berkumpul dengan ilmuwan kita menjadi pintar. Berkumpul dengan
pecundang kita akan menjadi pecundang pula.
Manusia memiliki naluri mengikuti dan
meniru perilaku dan ucapan orang yang berada disekitarnya. Oleh karena itu,
watak atau sifat manusia terbentuk dari lingkungan dan pergaulan. Manusia mulai
bisa mendengar ketika masih berupa janin dalam kandungan yang berusia 4 bulan.
Makanya bagi seorang ibu waktu hamil disarankan berkelakuan, berucap dan
mendengarkan suara yang baik agar bayi yang dilahirkan terbentuk wataknya sesuai
dengan masukan dari orang tua.
Sebuah nasehat mengatakan rumahmu adalah
sekolahanmu, orang tuamu adalah gurumu. Dari kata-kata singkat penuh arti
tersebut, jelas bahwa sekolah pertama dan utama dalam hidup adalah lingkungan
di rumah. Kelakuan kedua orang tua akan ditiru oleh anaknya. Setelah lulus
berguru dari orang tua, sekolah lanjutannya adalah pergaulan. Jadi manusia itu
secara gen anak produk dari kedua orang tua. Namun secara perilaku anak produk
dari lingkungan atau pergaulannya. Sifat atau watak kita juga terbentuk dari
dua lingkungan tersebut. Sebaik-baiknya sifat orang tua kalau lingkungan
pergaulannya buruk maka si anak akan berwatak buruk, begitu juga sebaliknya.
Dalam ketiga bahasan di atas pergaualan
dalam lingkungan remaja yaitu sekolah ataupun lingkungan rumah mempengaruhi
pola pikir dan cara mereka hidup , jadi remaja di haruskan untuk bisa memilih
pergaulan agar tidak salah langkah.
1.3 1.3 Faktor
yang mempengaruhi pergaulan
Terdapat
banyak Faktor yang mempengaruhi pergaulan dalam lingkungan keluarga :
a. Orang Tua
Peran keluarga amatlah penting dalam
memberikan pengarahan, karena orang tua
itu sangat besar pengaruhnya terhadap pergaulan anaknya. Jika orang tuanya
mengajarkan yang baik-baik, misalnya tatakrama, pengetahuan agama, sopan
santun, dll maka anak tersebut akan nenerapkan juga di lingkungan luarnya dan
ia pun mencari pergaulan yang hamper
sama dengan lingkungan keluarganya. Sedangkan sebaliknya jika orang tua
mengajarkan yang tidak baik kepada anaknya maka anaknya tersebut akan
terpengaruh dan mengikuti orang tuanya yaitu berprilaku buruk karena ada
pepatah bilang “ buah itu jatuh tidak jauh dari pohonya “, oleh karena itu jika
orang tuanya baik anaknya pun akan baik dan begitu sebaiknya. Tetapi walaupun
perhatian keluarga/ orang tua sangat penting, orang tua pun terlalu keras
terhadap anaknya karena dengan begitu mungkin anak pun akan jenuh dengan
perhatian orang tua yang berlebihan dan mungkin agak keras jadi sebaiknya
keluarga / orang tua memberikan perhatian yang wajar-wajar saja tidak
berlebihan tetapi juga tidak membebaskan pergaulan anak remajanya., (adanya
umpan timbal balik , yaitu dimana jika orang tua memberikan kasih sayang maka
anaknya pun akan memberikan kasih sayang kepada orang tuanya )
b. Sodara
Adik atau kakak juga memiliki peran serta
dalam mempengerahui pergaulan, contohnya seorang kakak berperilaku yang tidak
baik dalam hal sering membolos saat sekolah, berbohong kepada keluarga maka
seorang adik yang melihat kakaknya seperti itu akan mengikuti perilaku yang buruk juga seperti kakanya.
Begitu juga sodara sepupu yang tinggal satu rumah, mungkin akan berperlikau
yang sama jika tidak ada peran kontrol orang tua dalam pergaulan.
c. Lingkungan
Lingkungan dalam
pergaulan remaja ini pun tak kalah pentingya dengan keluarga, jika remaja
tersebut tinggal dan bergaul di lingkungan yang buruk maka ia akan terbawa
buruk juga misalnya remaja tersebut hidup di lingkungan yang kebanyakan orang
–orangnya selalu berbuat yang tidak baik misalnya berjudi berpakaian seksima
bisa jadi anaknya tersebut akan terpengaruh pergaulan yang seeperti itu akan
tetapi sebaliknya jika anak tersebut tinggal dan bergaul di lingkungan yang
baik maka anak tersebut secara tidak langsung akan mengikuti prilaku terbaik
tersebut.
d. Spritual
Pendidikan spiritual
seharusnya di tanamkan kepada para remaja sejak dini agar tercipta suatu remaja
yang berahklak dan berbudi luhur baik, karena remaja yang berakhlak akan
membuat moral remaja tersebut menjadi baik dan remaja tersebut mempunyai pegangan
dalam hidupnya, karena suatu agama adalah pegangan bagi manusia di dunia ini.
Jika seorang remaja tidak pernah menanamkan keagamaan dalam kehidupannya remaja
tersebut akan terjerumus ke dalam pegaulan bebas karena ia tidak punya pegangan
dalam hidupnya, keagamaan tersebut bisa di dapat dari keluarga, lingkungan,
dan kehidupa sehari-harinya.
Dari
ke empat faktor diatas kita dapat melihat dampak-dampak sosialnya bagi remaja
yaitu dimana jika seorang remaja berada di keluarga yang baik yaitu mengajarkan
tentang tatakrama dalam bergaul, di lingkungan yang didalamnya rata-rata
terdapat masyarakat yang baik yaitu masyarakat yang dapat memberikan contoh
yang baik bagi remaja-remaja di sekitarnya,dan spiritual yang mendalam dapat
membuat seorang remaja menjadi remaja yang berakhlak dan berbdi luhur. Akan
tetapi sebaliknya jika seorang remaja tersebut berada di keluarga, lingkungan ,
dan spiritual yang tidak baik maka remaja tersebut bisa terjerumus ke dalam
pergalan bebas dan seorang remaja tersebut tidak akan mempunyai pegangan dalam
hidupnya.
2.1 Pergaualan Remaja Di Setiap Negara
Di setiap negara memiliki
berbagai macam pergaulan yang berbeda-beda seperti berpakaian bebas, free sex dan
lain-lain.Dibawah ini saya hanya mengambil 4 negara dan 2 benua termasuk
negara Indonesia.
a. Amerika
Serikat
Penanggulangan Penyakit dan Pencegahannya
(CDC) yang berada di Amerika menyebutkan bahwa 3,2 juta remaja Amerika yang
berumur 14-19 tahun, terjangkit penyakit menular seksual, dan angka tersebut
secara prosentase telah mencakup 26% dari jumlah total remaja perempuan di usia
tersebut.
Sebagaimana diketahui, bahwa remaja Amerika
amat akrab dengan budaya pergaulan bebas, dimana pergaulan terhadap lawan jenis
tidak mimemiliki batas yang jelas. Dan negara pun mendukung budaya itu,
sehingga tidak ada hak bagi orang tua untuk melarang aktivitas kebebasan
anak-anak mereka. Budaya ini memiliki andil yang cukup besar dalam penularan
penyakit seksual di negara itu.
b. Australia
Tingkat kenakalan remaja di Australia lebih
tinggi ketimbang remaja di Amerika Serikat. Penelitian lembaga "Murdoch
Children's Research Institute" di Australia dan Universitas Washington, AS, menemukan fenomena kenakalan
remaja di kedua negara tersebut dengan mewawancarai 4.000 pelajar berusia
antara 12 dan 16 tahun di Victoria, Australia, dan di Washington Tingkat
kenakalan remaja di Australia lebih tinggi ketimbang remaja di Amerika Serikat.
Penelitian lembaga "Murdoch Children's Research Institute" di
Australia dan Universitas Washington,
AS, menemukan fenomena kenakalan remaja di kedua negara tersebut dengan
mewawancarai 4.000 pelajar berusia antara 12 dan 16 tahun di Victoria,
Australia, dan di Washington State As.
c. Indonesia
Indonesia mendefinisikan pergaulan bebas
adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang, "bebas" yang dimaksud
adalah melewati batas-batas norma ketimuran yang ada. Masalah pergaulan bebas
di Indonesia sering kita dengar dari lingkungan mana pun, baik dari media
massa. Telah jelas bagi kita tidak adanya Rancangan pembentrukan Undang-Undang
legalisasi aborsi, karena hal itu bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila,
Agama, dan Hukum yang berlaku. Legalisasi aborsi akan mendorong pergaulan bebas
lebih jauh dalam masyarakat. Data statistik nasional mengenai penderita
HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 75% terjangkit hilangnya daya
tubu hpada usia remaja.
d. Jepang
Daerah Niigata, salah satu kota indah di
Tokyo sedang marak dengan tren rok mini (minisuka). Pelajar wanita di Niigata
seakan merasa "lazim" mengenakan rok mini, padahal pihak sekolah dan
orang tua melarangnya. Bahkan saat terjadi razia, mereka membawa rok ganti yang
lebih panjang, dan setelah razia, mereka memakai kembali rok mini itu. Remaja
Jepang memiliki etika ketika berpacaran. Mereka akan menganggap remeh orang
yang saat berpacaran namun masih menjaga virginity-nya. Jadi, mereka memiliki
ketentuan ketika berpacaran mereka harus melakukan seks bebas dengan
kekasihnya.
Adapun pelecehan seksual banyak terjadi di
Jepang, terutama bagi kalangan wanita. Contohnya, pria mesum, ketika di
supermarket mengambil kesempatan saat wanita ber-rok mini sedang sibuk
berbelanja dan pria tersebut mencoba memotret celana dalam wanita tersebut.
Hal
yang sama terjadi pula di sebuah Shinkansen (kereta listrik), ketika para
penumpang sedang berdesakan di dalamnya, para pria mesum atau lebih dikenal
dengan molester menggunakan kesempatan tersebut dengan melakukan hal-hal yang
tidak senonoh terhadap wanita. Hal-hal diatas tersebut merupakan contoh-contoh
pergaulan bebas menurut pengertian
Jepang. Pergaulan bebas remaja di Jepang dapat dikategorikan sebagai pergaulan
yang sangat bebas, namun mereka masih menganut tradisi kuno Jepang yang dikenal
cukup disiplin.
e. Afrika
Pergaulan bebas di kalangan masyarakat
Afrika Selatan di kawasan-kawasan perkotaan dan penindasan budaya kaum kulit
hitam sewaktu era apartheid telah mengakibatkan hilangnya cara hidup lama di
kota-kota di sini. Namun, budaya kulit hitam masih ada di kawasan pedesaan.
Beberapa perbedaan budaya tetap ada diantara etnis-etnis di sana, seperti adat
perkimpoian dan hukum adat mereka. Tetapi pada umumnya, tradisi masyarakat
kulit hitam adalah berlandaskan kepercayaan kepada dewa-dewa yang perkasa serta
maskulin, semangat nenek-moyang dan kuasa-kuasa gaib.
Poligami juga dibenarkan dan
"lobolo" (mas kimpoi) biasanya akan dibayar. Kerbau memainkan peranan
penting dalam kebanyakan budaya, sebagai simbol kekayaan dan hewan korban. Pergaulan yang positif pun tidak berjalan
secara lancar, seks bebas terjadi dimana-mana. Adapun sebuah acara/upacara,
yang pada akhirnya mereka bermabuk-mabukan, sehingga lepas kontrol akan
kelakuan mereka dan tidak menutup kemungkinan hal ini menuntun mereka ke dalam
seks bebas. Seks yang dimaksud dapat dilakukan dengan siapa pun, bahkan seorang
wanita dapat bersemalam dengan beberapa pria.
f. Eropa
Dapat kita katakan bahwa Eropa merupakan
titik awal dari tersebarnya pergaulan bebas. Budaya Eropa cenderung bersifat
bebas, terlebih dari segi agama yang berbeda dengan anutan Islami, juga memiliki sudut pandang yang
sangat terbuka.
Dalam kehidupan kesehariannya, setiap
mahasiswa di Eropa menerima bungkusan "biru" yang berisi satu set
lengkap peralatan persiapan untuk melakukan seks, di antaranya adalah kondom.
Pemberian tersebut gratis, tanpa bayar. Hal ini menunjukkan betapa terbukanya
mereka dengan hal-hal yang dianggap tabu oleh masyarakat timur. Adapun
masyarakat di sana tidak hanya melakukan "pergaulan" dengan lawan
jenis, namun ada beberapa kumpulan orang yang dengan bangganya disebut sebagai
"homo" ataupun "lesbi".
g. Timur
Tengah
Berbeda halnya dengan Eropa, negara-negara
di timur tengah terkesan sangat tertutup, terutama di Saudi Arabia. Ketekunan
akan menjalani aturan Islami sangatlah kental, menyebabkan adanya jarak penutup
atau pemisah disetiap lawan jenis. Wanita diwajibkan berhijab (menutup aurat)
dan kebanyakan memakai cadar, ini merupakan bukti adanya aturan yang melarang
kaum hawa bergaul bebas dengan kaum adam. Pergaulan dalam konteks Islami
sangatlah tidak sama dengan apa yang ada di negara barat. Seperti bersentuhan
kulit secara langsung sangat tidak dibolehkan oleh Islam, karena bukan muhrim.
Dengan ini, otomatis pacaran pun diharamkan.
Namun, semua peraturan tidak sepenuhnya
dipatuhi sebagaimana watak manusia. Banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan
termasuk pelecehan kaum wanita. Kehidupan yang tertutup seperti itu kadang kala
membuat para pria tidak terbiasa untuk melihat wanita. Hal ini dapat
menyebabkan banyak hal.
2.2
Penyebab Terjadinya Pergaulan Bebas Remaja
Indonesia
Ada
banyak sebab remaja melakukan pergaulan bebas. Penyebab tiap remaja mungkin
berbeda tetapi semuanya berakar dari penyebab utama yaitu kurangnya pegangan
hidup remaja dalam hal keyakinan/agama dan ketidakstabilan emosi remaja. Hal
tersebut menyebabkan perilaku yang tidak terkendali, seperti pergaulan bebas.
Berikut ini di antara penyebab maraknya pergaulan bebas di Indonesia.;
a. Sikap
mental yang tidak sehat
Sikap
mental yang tidak sehat membuat banyaknya remaja merasa bangga terhadap
pergaulan yang sebenarnya merupakan pergaulan yang tidak sepantasnya, tetapi
mereka tidak memahami karena daya pemahaman yang lemah. Dimana ketidak stabilan
emosi yang dipacu dengan penganiayaan emosi seperti pembentukan kepribadian
yang tidak sewajarnya dikarenakan tindakan keluarga ataupun orang tua yang
menolak, acuh tak acuh, menghukum, mengolok-olok,memaksakan kehendak, dan
mengajarkan yang salah tanpa dibekali dasar keimanan yang kuatbagi anak, yang
nantinya akan membuat mereka merasa tidak nyaman dengan hidup yangmereka biasa
jalani sehingga pelarian dari hal tersebut adalah hal berdampak negatif,
contohnyadengan adanya pergaulan bebas.
b. Pelampiasan
Rasa kecewa
Yaitu ketika seorang remaja mengalami tekanan
dikarenakan kekecewaannya terhadap orangtua yang bersifat otoriter ataupun
terlalu membebaskan, sekolah yang memberikan tekanan terus menerus (baik dari
segi prestasi untuk remaja yang sering gagal maupun dikarenakan peraturanyang
terlalu mengikat), lingkungan masyarakat yang memberikan masalah dalam
sosialisasi,sehingga menjadikan remaja sangat labil dalam mengatur emosi, dan
mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif di sekelilingnya, terutama pergaulan
bebas dikarenakan rasa tidak nyaman dalam lingkukangan hidupnya.
c. Kegagalan
remaja menyerap norma dan pendidikan agama
Hal ini disebabkan karena norma-norma yang
ada sudah tergeser oleh modernisasi yang sebenarnya adalah westernisasi dan
bisa juga karena factor keluarga yang kurang memberikan pendidikan agama,
sehingga begitu lemahnya iman seorang remaja yang menjadikan mereka gampang
terpengaruh oleh pergaulan bebas dalam lingkungannya tersebut.
d. Teman
dan Komunitas Tempat Tinggal yang Kurang Baik
Masa remaja adalah masa dimana suatu anak
masih mencari jati diri mereka yang sebenarnya, masa ini masa yang sangat
rentan dan harus terus di control oleh para orang tua kepada anak mereka.
Remaja yang tidak dapat memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua
yang tidak memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus
bergaul. Karena remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku
yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada
perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua
tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk
bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
3.1 Perkembanganan
Kebudayaan Dan Pergaulan Remaja
3.1.1 Perkembangan Budaya Barat
di Indonesia
Budaya barat masuk ke Indonesia semenjak
zaman penjajahan. Semenjak itulah budaya barat memulai perkembangannya di
Indonesia. Pada mulanya, budaya ini belum mempengaruhi semua lapisan
masyarakat, karena pada saat itu berlaku sistem kasta yang tidak memungkinkan
kalangan masyarakat bawah untuk mengadopsi budaya ini ( Matroji, 2006 : 122 ).
Saat ini pengaruh budaya barat tidak hanya
sebatas cara berpakaian, pergaulan, tapi juga di bidang pendidikan dan gaya
hidup. Subjek yang paling terpengaruh adalah remaja. Bahkan bagi sebagian
remaja, gaya hidup barat merupakan suatu kewajiban dalam pergaulan. Banyak
factor yang menyebabkan remaja sangat mudah menyerap budaya barat. Hal ini akan
dibahas pada pembahasan berikutnya.
3.1.2 Faktor
Pendukung Perkembangan Budaya Barat dikalangan Generasi Muda
Budaya
Barat berkembang dengan sangat pesat di Indonesia. Perkembangannya tidak hanya terjadi di
kota-kota besar, namun telah merambah ke kota-kota kecil, bahkan ke desa-desa.
Tanpa disadari, masyarakat telah memadukan budaya Barat dengan budaya Timur
dalam aspek kehidupan mereka.
Terdapat beberapa Faktor dalam
kebudayaan barat menjadi kebiasaan di Indonesia :
·
Faktor Internal
Generasi muda memilik i semangat yang tinggi dalam aktivitas yang mereka gemari.
Mereka memiliki energi yang besar, yang dicurahkannya pada bidang tertentu,
ide-ide kreatif terus bermunculan dari pikiran mereka, walaupun pada sebagian
remaja tidak terlihat hal ini. Selain potensi yang besar, generasi muda
terutama remaja juga memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang terjadi di
sekitarnya. Untuk menuntaskan rasa ingin tahunya, mereka cenderung menggunakan
metode coba-coba. Jika kurang berhati-hati, penggunaan metode ini sangat
merugikan, karena yang di coba belum tentu sesuatu yang baik.
Hal ini juga terjadi pada saat budaya barat
masuk kedalam kehidupan remaja. Sebagai sesuatu yang asing dan baru, budaya ini
menarik perhatian mereka. Sebagai contoh, ketika berkembang system belajar yang
menyenangkan atau disebut Quantum Learning, remaja cenderung mencoba hal
tersebut. Namun hal ini tidak terbatas hanya pada budaya yang bersifat positif,
tapi juga pada budaya negatif. Misalnya, ketika berkembang budaya “clubbing” di
kota-kota besar, sebagian besar remaja marasa tertarik untuk mencoba, sehingga
ketika sudah merasakan kelebihannya, perbuatan itu terus dilakukan. Tentu saja
hal ini tidak terlepas dari peran keluarga dalam membimbing remaja dalam
menjalani masa yang sangat sulit ini. peran keluarga ini akan dijelaskan pada
subbab selanjutnya.
·
Faktor eksternal
Sama seperti point sub bab1.3 yakni
faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pergaulan namun, dalam
perkembangannya, budaya barat dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor
internal, faktor eksternalnya antara lain keluarga, lingkungan, pergaulan,
perkembangan teknologi, dan media massa.
3.1.3
Dampak Positif dan Negatif dari Perkembangan pergaulan Budaya Barat
Dalam
kehidupan kebudayaan barat juga memiliki 2 dampak positif dan negatif dalam kebudayaan
timur.
1. Sisi
positif
Ø Mengubah
Sistem belajar
Pola belajar yang
monoton kini telah digantikan oleh
system pembelajaran yang disebut dengan “Enjoy Learning”. Sistem ini telah
diterapkan oleh banyak Sekolah di Indonesia. Melalui sistem ini, generasi muda
dapat merasakan belajar sebagai suatu hal yang menyenangkan dan merupakan suatu kebutuhan.
Ø Memudahkan
Jalur Komunikasi dan Informasi.
Budaya barat yang
masuk ke Indonesia telah membawa teknologi yang bermanfaat, seperti Televisi,
Internet, dan Telepon selular. Jika pada zaman dahulu orang harus menunggu lama
untuk mengetahui kejadian di Amerika Serikat , saat ini dapat dengan mudah
dilihat di Televisi atau diakses melalui Internet. Untuk komunikasi jarak jauh,
kita tidak perlu lagi kekantor pos untuk mengirim surat. Dengan menggunakan
Telepon selular, dengan mudah seseurang dapat berkomunikasi dengan orang lain
bahkan di Benua yang berbeda. Hal ini memperlancar komunikasi dan informasi di
Indonesia.
Ø Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Dengan adanya pengembangan system belajar serta lancarnya
jalur komunikasi dan informasi, memudahkan generasi muda untuk mendapatkan
informasi terbaru mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
negara lain. Sehingga akan dihasilkan genersai muda Indonesia yang cerdas untuk
membangun bangsa.
2. Sisi
Negatif
Ø Perubahan
Gaya Hidup Remaja.
Gaya hidup “hura-hura” sangat mendominasi dikalangan remaja
barat. Namun, kebanyakan remaja telah mengadopsi gaya hidup ini. Hal ini tidak
terbatas pada kota-kota besar, tapi sudah banyak remaja di kota-kota kecil yang
merubah gaya hidup mereka. Remaja denga gay hidup “hura-hura” menjalani hidup
sesuai dengan keinginan mereka. Mereka menghabiskan hidupnya untuk melakukan
hal-hal yang menyenangkan, berpesta pora, dan menghabiskan waktu dengan
sia-sia.
Ø Pergaulan
Bebas.
Dalam pergaulan remaja barat, hampir tidak ada “batasan”
antara pria dan wanita. Pacaran yang kemudian dilanjutkan dengan pelukan,
ciuman, bahkan hubungan badan merupakan hal yang biasa. Dengan adanya pengaruh
dari media yang sangat kuat,pergaulan bebas mulai marak dikalanga generasi muda
Indonesia. Ironisnya budaya ini telah berkembang hingga kekota yang dikenal
dengan julukan “kota pelajar”.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi
Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Penelitian Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH)
selam 3 tahun, mulai Juli 1999 hingga Juli 2002, dengan melibatkan sekitar
1.660 responden dari 16 Perguruan tinggi negeri dan swasta di Yogyakarta,
diperoleh data bahwa 97,05 % mahasiswinya sudah kehilangan keperawanannya saat
kuliah. ( Solihin , 2003 : 39).
Selain karena adanya dukungan media, hal ini juga disebabkan
oleh suasana kos yang mendukung di Yogyakarta, yaitu tidak adanya kontrol oleh
pemilik kos. Hal ini merupakan sebuah peringatan keras bagi bangsa Indonesia
untuk memperbaiki kondisi generasi muda.
Ø Hilangnya
Rasa Bangga Terhadap Budaya Timur.
Saat ini, hampir sebagian besar generasi muda telah
kehilangan jati dirinya sebagai bangsa timur. Hal ini terjadi karena tidak ada
lagi rasa bangga terhadap budaya timur. Seorang remaja yang rajin belajar,
menghabiskan waktu di perpustakaan dan di rumah, dan patuh pada orang tua dan
guru dianggap sebagai orang yang norak, kuno, dan kurang pergaulan.
Sebaliknya, remaja yang nilai-nilainya rendah, menghabiska waktu
di mal atau diskotek, melawan pada guru, berontak terhadap keinginan orang tua,
dan yang menganut gaya hidup “hura-hura” dianggap sebagai dewa pergaulan.
Sehingga banyak remaja yang merubah gaya hidupnya demi pergaulan ( Ilmi , 2007
: 16).
Penanggulangan Dampak Negatif Budaya Barat
Budaya Barat saat ini berkembang pesat di
Indonesia, baik yang bersifat positif dan negatif sangat mudah diterima
masyarakat, khususnya generasi muda. Pengaruh positif dan negatif ini telah
dibahas pada subbab sebelumnya. Para orangtua sangat khawatir atas perkembangan
pergaulan remaja saat ini. Oleh karena itu, sebagai generasi muda yang baik
kita hendaknya tidak mengikuti budaya barat yang berdampak negatif.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya,
saat ini remaja yang tidak mengikuti perkembangan yang terjadi akan dianggap
kuper atau tidak modern, tetapi remaja sekalian jangan takut karena tidak semua
perkembangan yang ada berdampak baik. Untuk selanjutnya penulis akan memberikan
solusi cara mengatasi pengaruh budaya Barat yang bersifat negatif, diantaranya
sebagai berikut:
1. Remaja
seharusnya dapat memilah dan menyaring perkembangan budaya saat ini, jangan
menganggap semua pengaruh yang berkembang saat ini semuanya baik, karena belum
pasti budaya barat tersebut diterima dan dianggap baik oleh Budaya Timur kita.
2. Para
Orangtua sebaiknya lebih mendekatkan diri kepada anaknya, dan berusaha menjadi
teman untuk anaknya sehingga dapat memberikan saran kepada anak, dan anak pasti
akan merasa lebih dekat kepada Orangtua dan akan mengingat saran dari
Orangtuanya tersebut.
3. Pemerintah
lebih tegas terhadap peraturan, khususnya penyimpangan perilaku akibat pengaruh
budaya asing.
4. Masyarakat
hendaknya membantu pemerintah, dalam menanggulangi perkembangan budaya Barat
yang bersifat negatif.
4. Kesimpulan
Dari bahasan yang
saya ambil keseluruhannya saya tarik kesimpulan bahwa pergaulan dan kebudayaan saat ini mengenai remaja khusunya di negara
Indonesia sudah sangat jauh dari norma kesopanan, norma agama dan telah melupakan
kebudayaa timur, yang menjunjung tinggi semua norma kebaikan seperti norma
kesopanan, norma agama, daln lain-lain.
Langganan:
Postingan (Atom)